Penulis: Oktamandjaya Wiguna (Pascasarjana Komunikasi Universitas Indonesia)
SALEMBA, September 2024
Kritik penulis Joanna Maciejewska terhadap pengembangan kecerdasan buatan menjadi salah satu ujaran yang viral tahun ini. Pada 29 Maret 2024, Maciejewska menulis di X:
“I want AI to do my laundry and dishes so that I can do art and writing, not for AI to do my art and writing so that I can do my laundry and dishes.”
Perkara ini saya tanyakan kepada ChatGPT, mengapa di satu sisi ada penerapan kecerdasan buatan oleh para peneliti biologi maritim di Karibia untuk mempelajari ribuan rekaman dan memecahkan sistem komunikasi paus sperma (Sharma et al., 2024; Weisberger, 2024). Namun di sisi lain, mayoritas pemanfaatan kecerdasan buatan justru lebih banyak untuk bantuan menulis surat elektronik atau merekayasa foto. Hanya dalam 1,5 tahun sejak 2022, AI telah digunakan untuk membuat 15 juta foto, sedangkan dunia fotografi analog dan digital membutuhkan 149 tahun untuk mencapai jumlah yang sama (Valyaeva, 2023).
Setelah prompt pertanyaan ini diajukan, ChatGPT menjelaskan, keberhasilan membaca pola suara paus sperma tersebut adalah bukti kemampuan teknologi artificial intelligence dalam memproses data dan membaca pola yang mungkin sulit untuk dideteksi manusia. Kecerdasan buatan dapat meningkatkan kemampuan manusia untuk menjalankan analisis yang melibatkan data dalam skala besar.
Namun, soal penggunaan AI untuk pengolahan teks, gambar, suara, dan video lebih banyak ditemui karena faktor peluang keuntungan komersial dan permintaan pasar. Penerapan teknologi seperti ini lebih mudah dimonetisasi dengan iklan dan biaya langganan. Lalu karena mudah diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, maka tipe kecerdasan buatan seperti ini lebih banyak mendapatkan liputan media dan perhatian publik.
Jawaban ChatGPT ini mengonfirmasi kecurigaan Jean Baudrillard terhadap kepentingan kapitalisme yang menyusup ke dalam pengembangan teknologi. Menurut Baudrillard, ketika sebuah teknologi sudah sampai pada tahap dapat digunakan oleh publik, maka komersialisasi menjadi tujuan sehingga perkembangan teknologi hanyalah ilusi karena yang ada hanyalah penambahan fitur-fitur minor dan pengemasan yang dapat memberikan prestise kepada penggunanya (Baudrillard, 1996, p. 124).
Baudrillard (1996) merujuk kepada industri otomotif yang berkembang pesat pada 1910-1940 lalu perkembangannya stagnan. Alih-alih mengembangkan kendaraan listrik atau mobil terbang seperti diidamkan, produsen justru hanya mengembangkan variasi berdasarkan selera: lebih besar, lebih cepat, dan lebih mewah.
Bias technoboosterism dalam menyikapi AI
Berkebalikan dengan Maciejewska atau pemikir postmodernisme seperti Baudrillard, industri dan publik justru cenderung berpandangan positif terhadap kecerdasan buatan. Mikael Kopteff yang menjabat Chief Technology Officer di perusahaan pengembangan kecerdasan buatan, Reaktor, mengkritik media yang melebih-lebihkan kemampuan kecerdasan buatan seperti teknologi fiksi ilmiah sehingga memicu kecemasan. Padahal artificial intelligence yang ada saat ini yang sanggup mengerjakan berbagai tugas seperti halnya manusia, padahal program yang ada saat ini hanya mampu mengerjakan tugas yang sangat spesifik (Silverberg, 2024).
Survei Statista menunjukkan Indonesia tergolong negara dengan sikap positif dan pengetahuan terhadap kecerdasan buatan yang tertinggi di Asia. Sebanyak 84 persen responden Indonesia tahu mengenai kecerdasan buatan dan 76 persen responden Indonesia mengetahui produk dan layanan jasa yang menggunakan teknologi tersebut (von Kameke, 2023, 2024).
Temuan tersebut sejalan dengan data Kementerian Komunikasi dan Informatika, yakni ada sekitar 22 persen pekerja di Indonesia telah menggunakan AI dalam bekerja. Mereka antara lain berasal dari sektor informasi dan komunikasi, jasa keuangan dan asuransi, pemerintahan, dan pertahanan (Prasasti, 2023).
Jurnalis BBC Melissa Heikkilä dan Zoe Kleinman menyatakan hal senada, yakni media cenderung negatif dalam menghadapi kecerdasan buatan dan memerlukan keberimbangan untuk juga memberitakan sisi positif teknologi ini (Silverberg, 2024). Namun demikian, sikap yang terlampau positif terhadap teknologi ini juga mengandung bahaya, yakni bias technoboosterism. Saat menghadapi inovasi, umumnya terdapat bias pro-teknologi, terutama oleh media, yang lebih menekankan sisi positif, keuntungan, kemajuan, dan melebih-lebihkan solusi berbasis teknologi dengan memberikan ruang lebih besar kepada pendukung teknologi baru dan meminggirkan kelompok yang bicara sisi negatif seperti potensi bahaya dan kerugiannya (Brennen et al., 2021; Michelle, 2007).
Hipermodernisme sebagai perspektif alternatif
Perdebatan antara pandangan yang cenderung utopia dan distopia terhadap kecerdasan buatan tadi dipandang oleh pemikir hipermodernisme, Gilles Lipovetsky sebagai kondisi yang tidak produktif karena tidak memberikan solusi yang konkret. Lipovetsky memandang perlunya kehati-hatian terhadap klaim modernisme yang melihat teknologi seolah tidak ada keterbatasan dalam menawarkan kebebasan dan kemudahan. Namun, ia juga tidak sepakat dengan perspektif postmodernisme yang terlalu pesimistis, seolah situasi tidak lagi dapat diperbaiki.
Lipovetsky berpandangan kompleksitas akibat teknologi yang menimbulkan masa depan penuh ketidakpastian dapat dibenahi saat ini juga, yakni dengan menekankan pada pengembangan teknologi yang bertanggung jawab. Dorongan untuk bertanggung jawab itu haruslah bersifat kolektif, memberdayakan individu, dan menggerakkan institusi yang ada (Lipovetsky p.27). Artinya semua pemangku kepentingan, terutama pembuat kebijakan dan perusahaan teknologi harus mengusahakan pengembangan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab.
Lantas bagaimana bentuk pengembangan dan penerapan teknologi yang bertanggung jawab itu? Pemikir hipermodernisme lainnya, Simon Gottschalk menyatakan tanggung jawab itu bisa bermula dari bersikap kritis terhadap teknologi. Ketika teknologi yang serba hadir itu menghambat dan menghilangkan peluang manusia untuk memperoleh kehidupan yang berkualitas dan merampas otonomi manusia, maka pada titik itulah teknologi harus dikritik (Gottschalk, 2018, p. 3).
Ketika kecerdasan buatan yang digunakan untuk mengkreasi gambar ilustrasi ternyata mencuri karya-karya pekerja kreatif (Kelly, 2022), atau saat kecerdasan buatan digunakan untuk menggantikan karyawan sehingga ribuan orang kehilangan mata pencaharian (Constantz, 2024), maka kita perlu bertanya, apakah pengembangan teknologi ini berjalan ke arah yang tepat? Apakah kecerdasan buatan, seperti kata Gottschalk, membantu manusia mencapai kehidupan yang lebih baik atau justru merampasnya?
Referensi
Baudrillard, J. (1996). The system of objects. Verso.
Brennen, J. S., Howard, P. N., & Nielsen, R. K. (2021). Balancing Product Reviews, Traffic Targets, and Industry Criticism: UK Technology Journalism in Practice. Journalism Practice, 15(10), 1479–1496.
Constantz, J. (2024, February 9). Over 4,000 workers have lost their jobs to AI since May, outplacement firm estimates—And that’s ‘certainly undercounting.’ Fortune.Com.
Gottschalk, S. (2018). The terminal self: Everyday life in hypermodern times (1 Edition). Routledge, Taylor & Francis Group.
Kelly, C. (2022, December 11). Australian artists accuse popular AI imaging app of stealing content, call for stricter copyright laws. theGuardian.Com.
Michelle, C. (2007). `Human clones talk about their lives’: Media representations of assisted reproductive and biogenetic technologies. Media, Culture & Society, 29(4), 639–663.
Prasasti, G. D. (2023, November 29). Wamenkominfo: 22,1 Persen Pekerja di Indonesia Sudah Mulai Pakai AI. Liputan6.Com.
Sharma, P., Gero, S., Payne, R., Gruber, D. F., Rus, D., Torralba, A., & Andreas, J. (2024). Contextual and combinatorial structure in sperm whale vocalisations. Nature Communications, 15(1), 3617.
Silverberg, D. (2024, April 14). “Journalists are feeding the AI hype machine.” BBC.Com.
Valyaeva, A. (2023, August 15). People Are Creating an Average of 34 Million Images Per Day. Statistics for 2024. Everypixel Journal.
von Kameke, L. (2023). Level of understanding of artificial intelligence (AI) in the Asia-Pacific region in 2023, by country. Statista.
von Kameke, L. (2024). AI product and service awareness level APAC 2023, by country. Statista.
Weisberger, M. (2024, May 13). Scientists say they’ve discovered a ‘phonetic alphabet’ in whale calls. CNN.Com.
Seri KOLABORASI berisi buah pikiran mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI berupa opini, pengamatan, dan diskusi fenomena sosial, budaya, dan komunikasi. Program ini diinisiasi oleh HIMPASKOM dengan semangat “dari kita untuk kita”. Ruang ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi karya mahasiswa agar dapat diakses oleh pembaca umum.


