DEPOK,
Prof. Muhammad Alwi Dahlan, Ph.D adalah orang Indonesia pertama yang mendapatkan gelar “Doktor Ilmu Komunikasi.” Beliau mendapatkan gelar doktor ini dari University of Illinois, Amerika Serikat pada tahun 1967. Pada saat itu, Prof. Muhammad Alwi, Ph.D berkesempatan berguru pada para founding father ilmu komunikasi yang namanya tak asing di bidang studi ini, Wilbur Schramm. Beliau juga berkuliah bersama teman-teman yang juga menjadi ilmuwan terkenal di bidang komunikasi seperti Steven Chaffee, William Paisley, dan Godwin Chou.
Diskusi buku “Alwi Dahlan 90+ Warisan Manusia Komunikasi Indonesia” yang dilaksanakan pada Kamis, 24 April 2025, dihadiri oleh putri beliau, para alumni/mahasiswa Prof. Alwi Dahlan di masa lalu, serta para mahasiswa aktif Departemen Ilmu Komunikasi (S1, S2, dan S3), Dekan FISIP UI, pimpinan dan para dosen Ilmu Komunikasi UI. Diskusi buku menampilkan sejumlah pembicara yang pernah berguru pada Prof. Alwi Dahlan, antara lain pada Sesi ke-1, Dr. Sunarto (Universitas Diponegoro) dan Dr. Irwansyah (Universitas Indonesia), kemudian pada Sesi ke-2, Prof. Dr. Rajab Ritonga (Universitas Gunadarma) dan Prof. Dr. Eni Maryani (Universitas Padjadjaran). Sesi 1 dimoderatori oleh Dr. Ressi Dwiana (Universitas Indonesia) dan Sesi 2 dimoderatori oleh Dr. Irwa Rochimah (Universitas Al Azhar Indonesia).
Buku Prof. Alwi Dahlan memiliki substansi berupa legasi profesional dan personal. Legasi profesional beliau adalah kiprah beliau di dunia jurnalistik dan perkembangan media Indonesia secara umum, dan beliau pernah menjadi Menteri Penerangan di era Presiden Soeharto. Sedangkan legasi personal adalah beliau sebagai sosok ayah, guru, dan sahabat, yang berkarakter tegas, bersahaja, kritis, suportif, dan perfeksionis. Menurut Dr. Sunarto, ia teringat saat menjadi mahasiswa bimbingan Prof. Alwi Dahlan, beliau sangat suportif saat membimbing. Padahal pada saat itu, Prof. Alwi Dahlan merangkap berbagai peran sosial seperti jurnalis, peneliti, dosen, sastrawan, dan pejabat negara.
Masing-masing pembicara dari acara diskusi buku ini menyampaikan perspektif mereka mengenai penelitian, paradigma, tradisi, dan konteks pembelajaran yang mereka alami bersama Prof. Alwi Dahlan. Pada Sesi 1, diceritakan bahwa “Prof. Alwi merupakan penggerak/lokomotif Jurusan Komunikasi di Indonesia yang sebelumnya adalah Jurusan Publisistik.” Pada sesi yang sama, Dr. Irwansyah membahas tentang eksplikasi Ilmu Komunikasi di Indonesia, perspektif komunikasi dari Muhammad Alwi Dahlan, dan pengalaman beliau ketika dulu berkuliah dan dibimbing Prof. Alwi Dahlan di Universitas Indonesia.
Pada Sesi 2, Prof. Dr. Rajab Ritonga, M.Si membahas warisan Prof. Alwi Dahlan sebagai motor penggerak perkembangan Ilmu Komunikasi di Indonesia, membawa ranah studi ini agar mencakup permasalahan komunikasi yang lebih luas dan mengikuti tren global, sementara sebelumnya ruang lingkup hanya berfokus pada studi publisistik. Selanjutnya di sesi tersebut, Dr. Eni Maryani membahas berbagai memori Prof. Alwi Dahlan dan menjelaskan pengalamannya, yaitu menonton film “Tiga Dara” dan “Jendral Kancil” yang skenarionya ditulis oleh Prof. Alwi sendiri. Dr. Eni juga berbagi kenangan saat menjalani wawancara calon mahasiswa doktoral UI. Ia berkisah betapa wawancara pada saat itu berlangsung cukup menegangkan akibat dirinya dan tim penguji memiliki perbedaan perspektif terkait rancangan riset untuk disertasi Doktor Ilmu Komunikasi. Dr. Eni menyatakan betapa ia masih ingat akan pengalamannya tersebut hingga hari ini, wawancara tersebut menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Dr. Eni Maryani menutup paparannya dengan menyoroti pentingnya perspektif-perspektif seperti pemikiran Prof. Alwi Dahlan dalam Ilmu Komunikasi.
Setiap sesi selalu diakhiri respons yang hangat dan riuh tepuk tangan dari hadirin diskusi buku. Diskusi buku ini ditutup dengan ucapan terima kasih dari moderator dan MC, serta foto bersama. (FYG/ISP. Foto: Dokumentasi TVUI)






