Skip to main content
Program Doktor

Melalui Riset Strategis Kedaulatan Data Satelit Indonesia, Mega Mardita Dapatkan Gelar Doktor Komunikasi

By Juli 24, 2025No Comments2 min read

DEPOK,

Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI) kembali menambah deretan akademisi perempuan di bidang komunikasi. Mega Mardita resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Komunikasi sekaligus menjadi doktor perempuan ke-78 yang diluluskan oleh Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi FISIP UI. Sidang promosi doktor digelar pada Rabu, 9 Juli 2025, pukul 10.00–12.00 WIB di Auditorium Juwono Sudarsono (AJS), Kampus FISIP UI Depok. Sidang ini dipimpin oleh Prof. Dr. Iwan Gardono Sudjatmiko sebagai Ketua Sidang. Tim promotor terdiri atas Dr. Hendriyani dan Endah Triastuti, Ph.D., kemudian dewan penguji yang meliputi Dr. Robertus Heru Triharjanto, Dr. Radhiatmoko, Dr. Ummi Salamah, dan Dr. Niken Febrina Ernungtyas.

Kedaulatan Data Satelit

Disertasi Mega yang berjudul “Kedaulatan Data Indonesia: Studi Kasus terhadap Aktor dalam Kebijakan Data Satelit Penginderaan Jauh” mengkaji bagaimana relasi antar-aktor negara dan tantangan kedaulatan data strategis muncul di tengah dominasi teknologi asing dan kelembagaan domestik yang belum solid. Melalui studi kasus terhadap Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), ia menelusuri dinamika komunikasi kebijakan dalam pengelolaan data penginderaan jauh.

Ketergantungan Teknologi dan Tantangan Kelembagaan

“Kedaulatan data satelit penginderaan jauh Indonesia masih bersifat parsial, utamanya disebabkan masalah kelembagaan dan ketergantungan pada pihak asing. Meskipun BRIN berperan penting dalam pengelolaan dan penyediaan data, Indonesia belum sepenuhnya berdaulat di level infrastruktur karena kepemilikan dan akses teknologi satelit masih dipegang asing sehingga menyebabkan ketergantungan struktural,” ungkap Mega dalam sidang akademiknya.

Usulan Strategi: Ketahanan Data

Dalam paparannya, Mega menekankan bahwa tantangan teknologi tidak semestinya membuat negara abai pada perlindungan data nasional. Ia mengusulkan pendekatan ketahanan data sebagai strategi kedaulatan alternatif. “Dalam konteks keterbatasan teknologi, kedaulatan data diwujudkan melalui pendekatan ketahanan data dengan membangun sistem kebijakan, kelembagaan, dan perlindungan terhadap data yang holistik dan berpihak pada negara dan masyarakat,” tambahnya.

Kontribusi Akademik dan Representasi Perempuan

Riset ini menandai kontribusi penting bagi kajian komunikasi kebijakan strategis di era data dan geopolitik digital. Mega menyuguhkan analisis kerangka konseptual baru yang mereposisi data sebagai isu kedaulatan dan hak publik dan bukan sekadar urusan teknokratik. Dengan pencapaiannya ini, Mega Mardita menambah representasi penting akademisi perempuan dalam diskursus nasional mengenai teknologi, negara, dan keadilan informasi. Ia dinyatakan lulus dengan hasil memuaskan. (MAP)