Skip to main content
Program Doktor

Membongkar Modal Subkultural dalam Dunia Urban Toys, Rani Chandra Oktaviani Raih Gelar Doktor Ilmu Komunikasi di UI

By Januari 14, 2026No Comments3 min read

DEPOK,

Fenomena urban toys sebagai bagian dari budaya populer kini tidak hanya dipandang sebagai ekspresi seni subkultural, tetapi juga menjadi arena tarik menarik antara nilai-nilai komunitas dan logika pasar. Inilah salah satu gagasan penting yang disampaikan oleh Rani Chandra Oktaviani dalam sidang promosi doktoralnya yang berlangsung di Auditorium Juwono Sudarsono, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP UI) melalui disertasi yang berjudul “Modal Subkultural dan Komersialisasi pada Era Neoliberal Lanjut: Studi Multi Kasus pada Skena Urban Toys di Indonesia.” Sidang promosi yang dilaksanakan pada tanggal 6 Januari 2026 ini dipimpin oleh Prof. Dr. Fredy B. L. Tobing dengan promotor Prof. Dr. Donna Asteria, M.Hum. dan ko-promotor Dr. Niken Febrina Ernungtyas, M.Si. Bertindak sebagai penguji adalah Dr. Haryatmoko, M.A., Dr. Lucia Ratih Kusumadewi, DEA, Endah Triastuti, Ph.D., Dr. Indah Santi Pratidina, M.Soc.Sci., dan Dr. Camelia Catharina, M.Si.

Dalam sidang promosi doktoralnya, Rani menyampaikan bahwa komunitas urban toys di Indonesia mengalami transformasi akibat pengaruh budaya neoliberal lanjut. Ia menekankan bahwa dalam skena ini, kreativitas dan nilai orisinalitas para pegiat urban toys justru kerap dibingkai ulang melalui kacamata ekonomi pasar. Rani mengungkap bagaimana komunitas urban toys yang awalnya berangkat dari semangat ekspresi kreatif dan resistensi, justru turut menjadi bagian dari logika pasar yang lebih luas.

Penelitian Rani menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi multikasus yang mencakup berbagai komunitas urban toys di Indonesia. Hasil temuannya menunjukkan bahwa subkultur tidak sepenuhnya hilang atau terkooptasi, tetapi mengalami proses adaptasi melalui mediasi simbolik dan strategi branding personal. Media digital berperan besar dalam proses ini yang tidak hanya sebagai sarana distribusi, tetapi juga arena konstruksi identitas. “Kanal-kanal digital membuka ruang visibilitas sekaligus menjadi medan perundingan nilai karena pegiat urban toys harus menegosiasikan posisi mereka sebagai seniman sekaligus pelaku usaha kreatif,” tambah Rani.

Riset ini juga memperkaya pemahaman tentang dinamika modal subkultural (subcultural capital) di era pasca-subkultur. Ketika batas antara komunitas dan pasar semakin kabur, para pelaku budaya kreatif tidak hanya mempertahankan otentisitas, tetapi juga secara aktif membangun kredibilitas melalui jejaring, kolaborasi, dan pencitraan diri di ruang digital.

Rani Chandra Oktaviani dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan menjadi doktor Ilmu Komunikasi ke-162 dan sekaligus doktor perempuan ke-85 dari Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. (MAP)