Salemba,
Dinyatakan lulus dengan IPK 3,9 yang nyaris sempurna, siapa sangka kegiatan akademik bukanlah satu-satunya fokus Dede Kurniyawan selama mengenyam pendidikan di Program Pascasarjana Ilmu Komunikasi (Pascakom) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Indonesia (FISIP UI). Tidak tanggung-tanggung, ia mengemban jabatan strategis di dua organisasi pada waktu yang bersamaan, yakni Wakil Lurah Kelurahan Lembaga Pengelola Dana Pendidikan Universitas Indonesia (LPDP UI) dan Ketua Himpunan Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia (Himpaskom UI) 2.0. Di tengah kesibukannya, ia masih sempat menikmati hobinya beraktivitas olahraga melalui keanggotaannya di dua komunitas yang berbeda.
Bagaimana cara Dede Kurniyawan menyeimbangkan aktivitas akademik dan nonakademik yang ia geluti? Adakah trik khusus untuk menyelesaikan pendidikan dengan IPK yang memuaskan kendati belum pernah mendalami ilmu komunikasi? Yuk, simak kisah inspiratifnya!
Berawal dari Statistika, Merambah ke Dunia Komunikasi
Pada awalnya, Dekur, demikian ia kerap disapa, tidak sepenuhnya familiar dengan bidang Ilmu Komunikasi. Latar belakang pendidikannya diawali dengan Diploma 4 Statistika yang ia tempuh selama 4 tahun di Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS). Gelar dari sekolah kedinasan tersebut mengantarkan dirinya berkiprah di Badan Pusat Statistik Kota Tarakan (2014-2018), lalu Badan Pusat Statistik Provinsi Kalimantan Utara sebagai Statistisi Ahli Muda Subkoordinator Fungsi Diseminasi dan Layanan Statistik sejak awal tahun 2019 hingga saat ini.
Ketika aku ngambil mata kuliah itu (PTOMK), aku ngerasa ketambahan ilmu-ilmu baru yang bisa aku terapkan di BPS nanti.
Kariernya yang berkaitan erat dengan pelayanan dan kehumasan menuntut Dekur untuk berjumpa dengan banyak pihak, baik internal maupun eksternal untuk memberikan pembinaan dan konsultasi data statistik. Ketika itulah ia menyadari kemampuan komunikasi dan kehumasan yang baik adalah kebutuhan utama untuk menunjang pekerjaannya. Dengan alasan tersebut, ia mantap melanjutkan pendidikan di Program Magister Ilmu Komunikasi UI dengan dukungan beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Terbukti, pilihannya melanjutkan studi ia akui mampu meningkatkan kompetensinya di bidang ilmu komunikasi. Ia secara spesifik menyebutkan Perspektif Teori Organisasi dan Manajemen Komunikasi sebagai mata kuliah favorit yang memberikan pemahaman mengenai cara berkomunikasi dengan stakeholder internal dan eksternal.
“Memang mayoritas ilmu komunikasi di UI itu lebih ke kajian yang sifatnya teoritis dan akademis. Tapi ada mata kuliah yang aku ambil yang aku rasa itu bisa berguna buatku di instansiku. Aku ngambil mata kuliah PTOMK (Perspektif Teori Organisasi dan Manajemen Komunikasi). Ketika aku ngambil mata kuliah itu, aku ngerasa ketambahan ilmu-ilmu baru yang bisa aku terapkan di BPS nanti,” ucapnya.
Kolaborasi dan Konsistensi: Kunci Terbaik Adaptasi
Banting setir dari rumpun ilmu saintek ke ilmu humaniora menghadirkan tantangan tersendiri bagi dirinya. Ia mengaku sistem perkuliahan dan kurikulum yang berbeda membuatnya kebingungan. Beruntung, Pascakom UI memberikan kesempatan kepada mahasiswa yang tidak memiliki latar belakang pendidikan ilmu komunikasi untuk mengikuti matrikulasi yang lantas ia manfaatkan sebagai modal dasar untuk memahami materi.
Kebetulan selama ini aku ketemu sama kelompok-kelompok yang suportif satu sama lain, jadi saling nge-backup.
Dukungan dari teman-teman yang suportif juga dianggap berperan dalam proses adaptasi Dekur. Ia dan teman-teman seangkatan kerap berkolaborasi dan berdiskusi dalam mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen. “Kebetulan tugas-tugas mata kuliah di Ilmu Komunikasi di UI kan kebanyakan tugas kelompok. Jadi ketika kita ada kesulitan di satu sisi, ada temen yang lain yang bisa melengkapi sisi itu. Kebetulan selama ini aku ketemu sama kelompok-kelompok yang suportif satu sama lain, jadi saling nge-backup gitu,” ceritanya.
Ia berkisah bagaimana para pengajar di Pascakom UI kerap mendorong tanya-jawab dan diskusi di ruang kelas. Kesempatan itu ia manfaatkan untuk mengemukakan pendapat ataupun mengajukan pertanyaan kepada dosen dan kelompok yang sedang mempresentasikan materi. Untuk memastikan dirinya mampu memahami topik dan mengajukan pertanyaan yang relevan, ia terbiasa membaca buku, jurnal, atau bahan presentasi tentang topik yang akan dibahas pada malam hari sebelum kelas dimulai.
“Aku sih nggak mematok ada jadwal khusus untuk belajar. Gimana aku bisa mengoptimalkan itu semua ketika di jam kuliah. Ketika misalnya ada yang ngobrol, ya udah biarlah mereka ngobrol. Aku fokus aja ke presentasi atau dosennya lagi ngapain, terus aku tipis-tipis nyatet. Bener-bener aku pake buat menyerap banyak hal yang bisa aku serap dan itu aku lakukan secara konsisten dari Semester 1 sampai dengan di semester terakhir,” terangnya.
Study-Life Balance: Akademik, Organisasi, dan Hobi
Jauh dari stereotip mahasiswa kupu-kupu “kuliah-pulang-kuliah-pulang”, Dekur justru aktif terlibat dalam dua organisasi dan dua komunitas olahraga sekaligus. Pada enam bulan pertama keanggotaannya di Kelurahan LPDP UI, sebuah organisasi ikatan penerima beasiswa LPDP di lingkungan UI, ia langsung menjabat sebagai Kepala Bidang Internal dan Awardee Engagement yang bertanggung jawab terhadap aktivitas internal organisasi dan hubungan para penerima beasiswa. Enam bulan setelahnya, ia dipercaya menjabat sebagai Wakil Lurah 1 yang bertugas mengawasi dan mengarahkan beberapa bidang. Posisi tersebut membentuk dirinya menjadi seorang problem-solver yang dituntut responsif dan solutif terhadap berbagai kendala yang terjadi di dalam organisasi, khususnya terkait akademik dan administrasi kemahasiswaan.
Aku tuh tipe anak yang kalo aku capek sama kegiatan akademik dan organisasi, aku butuh pelarian tertentu supaya tetep bisa recharging lagi.
“Dulu saat jadi kepala bidang, aku bener-bener ngerancang teknis kegiatannya. Tapi ketika aku diamanahkan menjadi Wakil Lurah, aku lebih ke konseptor dan ambil kebijakan. Selain konseptor tim internal, ketika ada permasalahan-permasalahan terkait akademik atau administrasi kemahasiswaan di UI atau LPDP, biasanya semua anak akan menginfokannya ke aku. Ibaratnya menjadi advokasi atau jembatan komunikasi awardee dengan LPDP dan awardee dengan UI,” jelasnya antusias.
Peran serupa turut ia lakukan pada saat menjabat sebagai Ketua Umum Himpaskom 2.0 sepanjang tahun 2023. Sebagai konseptor dan pengambil kebijakan, ia lebih sering memberikan pandangan untuk menyelesaikan kendala yang dihadapi oleh organisasi. Kualitas kepemimpinan Dekur nampak melalui kemampuannya mendelegasikan tugas kepada bidang-bidang terkait sembari senantiasa mengawal kebutuhan tiap bidang. “Kalo mereka punya kendala kayak masalah perizinan dan lain-lain, baru aku mulai masuk buat ngebantuin. Aku kasih solusi, kita-kira pandanganku kayak gimana,” ucapnya.
Dengan segudang aktivitas dan tanggung jawab yang ia pikul, ada kalanya ia merasa lelah secara mental dan membutuhkan pelarian dari rutinitas tersebut. Tak heran, ia begitu antusias bergabung dengan komunitas softball Pukulari (@pukularijkt) dan komunitas voli Volipoli (@voli.poli) yang berbasis di Jakarta. Alih-alih kewalahan, ia justru merasa aktivitas olahraga mampu mengembalikan energi yang hilang setelah berkuliah dan berorganisasi, bahkan menjadi salah satu coping mechanism terbaiknya.
“Aku juga nggak nyangka akan terjun di komunitas itu karena berawal dari keisengan. Lagi main di Senayan, tiba-tiba lihat orang main softball. Aku tuh tipe anak yang kalo aku capek sama kegiatan akademik dan organisasi, aku butuh pelarian tertentu supaya tetep bisa recharging lagi. Ternyata komunitas softball ini bisa membuatku recharge kembali untuk bisa start lagi di kuliah dan di organisasi,” ia bercerita.
Lulus dengan Predikat Cumlaude, Apa Rahasianya?
Kendati sangat aktif berorganisasi, prioritas Dekur di bidang akademik berhasil dibuktikan melalui IPK 3,9 yang ia peroleh. Ia pun dengan senang hati berbagi tips bagi mahasiswa, baik yang sedang menjalani maupun yang baru akan memulai studi. Kunci utama yang perlu diperhatikan adalah perencanaan studi yang matang dan manajemen waktu yang baik. Ia menegaskan bahwa mahasiswa perlu menyusun rencana studi yang detail untuk tiap-tiap semester, berkaitan dengan kurikulum yang sudah disosialisasikan oleh prodi. Apabila mahasiswa merasa sudah mampu beradaptasi dengan kegiatan akademik selama satu semester pertama, ia bisa mulai mengikuti organisasi ataupun komunitas yang diminati.
Manfaatkan waktu libur. Jadi jangan terlena dengan waktu libur, sementara kita masih ada tugas-tugas lain.
Dekur sangat mendorong mahasiswa untuk mengerjakan publikasi ilmiah sedini mungkin dengan mengembangkan tugas-tugas kuliah yang sudah pernah dikerjakan. Maka, ia turut menyarankan untuk mengerjakan tugas kuliah dengan sebaik mungkin. “Setiap dosen kan selalu bilang, bikinlah tulisan yang sebaik mungkin karena bisa jadi tulisan kalian itu jadi bakal untuk publikasi ilmiah. Itu yang selalu aku pegang,” ungkapnya. Ia sendiri berhasil mempublikasikan penelitiannya yang bertema komunikasi perubahan iklim di Jurnal bereputasi “Mediator” yang dikelola oleh UNISBA pada pertengahan semester 3 dengan masa pengerjaan selama 3 bulan.
“Walaupun publikasi ilmiah itu di semester 3, kalo bisa dikerjakan di awal-awal di waktu senggang. Manfaatkan waktu libur. Jadi jangan terlena dengan waktu libur, sementara kita masih ada tugas-tugas lain. Tesis juga gitu. Kalo misalnya udah punya ide dari Semester 1, coba pelan-pelan aja cari bahannya karena kebetulan tesisku ini dari Semester 1 udah aku dapet topiknya. Jadi setidaknya isu itu sudah aku pelajari dari awal,” pesannya.
Dekur mengakhiri obrolan dengan menekankan pentingnya kehadiran support system, salah satunya dari kalangan teman seangkatan yang terdekat. Menurutnya, dukungan yang diberikan oleh teman terdekat tidak hanya mampu meningkatkan pemahaman tentang materi secara langsung, tetapi juga mendongkrak semangat belajar. Mengingat kebersamaan dan kolaborasi yang terjalin selama ini, ia berharap dapat terus menjaga hubungan yang baik dengan teman-teman seangkatan meskipun telah menyelesaikan studi dan kembali ke kota asal. (SAC)







